“migunani tumraping liyan” to be useful to others.
Barangkali yang membuat keluarga Entis Sutisna dan Nunung Sopiah selalu terlihat makmur bagi orang lain, karena keluarga mereka selalu tampak baik-baik saja.
Entis Sutisna dan Nunung Sopiah, berawal dari kisah sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama, hingga akhirnya sebuah kapal membawa mereka menuju janji suci pernikahan. Nunung, gadis anggun nan cerdas, yang kerap berkumpul dengan para ibu penikmat seni, merupakan putri dari seorang Kepala Desa di Cirebon. Ia dipertemukan dengan Sutisna yang kala itu tengah menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Tisna sendiri adalah sosok mahasiswa berprestasi, aktif berorganisasi, dan terbiasa menghadapi asam garam perjuangan. Berbekal semangat dan relasi yang ia bangun, lulus kuliah ia memberanikan diri mendirikan sebuah bengkel bernama “Bengkel Sonet.” Tak butuh waktu lama, bengkelnya dikenal luas di kawasan Bandung Raya. Dari sanalah langkah Tisna semakin kokoh, hingga akhirnya ia bisa memboyong Nunung ke Bandung dengan status sebagai seorang istri untuk menata hidup yang lebih mapan.
Dua tahun setelah pernikahan, kebahagiaan mereka bertambah dengan lahirnya seorang putra bernama Dewandaru Raga Mandala, yang akrab disapa Dewa. Di tahun yang sama, cabang kedua bengkel pun resmi dibuka di Jakarta dan sukses menarik perhatian banyak kalangan, termasuk para elite. Namun, badai krisis membuat Tisna memilih menutup sementara cabang tersebut sebelum genap setahun. Ia baru membukanya kembali di masa yang lebih tenteram, tepat saat Nunung mengandung anak kedua mereka, yang diberi nama Dewangga Ringgo Giantara.
Lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga Sutisna dan Nunung. Dewa, si sulung, tumbuh dengan sifat dan karakter yang begitu mirip ayahnya. Sejak kecil ia akrab dengan suara mesin dan aroma oli, hingga akhirnya menempuh jalan yang sama: membangun bengkel dengan ciri khasnya sendiri. Sedangkan Ugi, si bungsu yang santai persis ibunya, justru lebih senang menghitung peluang bisnis. Dari situlah lahir usaha kost-kostan di kawasan kampus yang ramai peminat.
Meski tampak hidup dengan segala kemapanan, keluarga ini tetap berdiri di tanah yang sama dengan akar tempat mereka tumbuh. Mereka percaya bahwa kebahagiaan sejati tak hanya soal apa yang dimiliki, tapi juga apa yang bisa dibagikan. Memberi adalah bagian dari napas hidup mereka, sebagaimana diajarkan agama bahwa sedekah itu luar biasa. ‘migunani tumraping liyan’—sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan mungkin di situlah letak kekuatan mereka, sebuah keluarga yang makmur bukan hanya karena usaha, tapi juga karena hati yang lapang untuk berbagi.
https://open.spotify.com/track/5fmyW3X3kncOOVlmcWhORH?si=87d413ddb62047d5